Satu Hal yang Pasti dari Masa Depan adalah Kematian
November 23, 2008
”Mas, aku takut tentang masa depan. Kok tiba-tiba saja perasaan itu datang.Kok semuanya sekarang menjadi begitu kacaunya.”
Sepenggal sms adik gwa mengusik rutinitas gwa yang begitu menyebalkan. Gwa dalam keadaan begitu positifnya. Gwa tetap melanjutkan rapat berapi-api itu yang apinya mungkin sudah mengecil sedikit. Setelah selesai, Gwa tak juga menjawab SMS adik gwa. Gwa membutuhkan waktu untuk merenung kembali apa benar demikian adanya. Apakah benar masa depan akan begitu kacaunya? Sementara gwa ini manusia yang tak pernah memikirkan masa depan. Gwa hanya hidup sehari untuk sehari. Kejadian yang sehari ya dilakoni sehari itu saja. Mau rencana Gwa gagal kek, mau berhasil seperti yang gwa harapkan kek, ya gwa diam saja, gwa jalani saja.
Tadi malem pas malem minggu, gwa diajak teman buat sekedar nongkrong direstaurant favourite doi. Ditemani wanita-wanita yang sepertinya jadi ciri khas doi gwa berusaha serilek-rileknya ngadepin situasi ini. Gile.. doi ditemenin beberapa wanita.. gwa ngentang… Doi menanyakan apa rencana gwa ke depan. Kemudian doi menjawab pertanyaannya sendiri. ”O ya… gwa lupa lo kan enggak pernah merencanakan masa depan ya?” prett..
Maka sebagai orang yang tak ”punya” masa depan, mendapat SMS bernada frustrasi semacam itu gwa jadi kelabakan sendiri. Tentu gwa bukan orang yang masa bodoh. Bahwa Krisis gobal , gempa bumi di seantero tanah air merenggut nyawa demikian banyaknya, peperangan terjadi, kita senang bermusuhan, menjatuhkan, senangnya merekayasa hidup orang lain, tak suka melihat orang lain sukses dan senang, mau monopoli, hutan dirusak, korupsi di mana-mana, gwa tak buta tentang itu semua.
Jujur sama Masa Depan
Gwa baca artikel di majalah Fortune edisi September 2008, ”Prada Goes Shopping-For Money”. Untuk dapat bersaing di dunia mode, rumah mode itu memerlukan dana segar, selain itu untuk membayar utang. Awal tragedi itu gara-gara rumah mode ini memiliki saham di tiga rumah mode lain dan satu rumah sepatu. Fortune menjelaskan demikian. Prada, however lacked the capital and managerialstrength to cultivate those acquisitions. And that’s when the trouble started. ”Prada has too much debt,” kata Frederico Lalatta dari Boston Consulting Group. ”If they can’t go public, they will be walking a fine line,” jelas dia lagi.
Dalam majalah itu dibeberkan juga, Pak Bertelli, suami Ibu Miuccia Prada, seorang yang temperamental dan yang telah membuat banyak eksekutifnya tak bertahan lama bekerja bersama dia. But his management style—marked by temper tantrum and a tendency to micromanage—has led to high turnover among Prada’s executives. Bertelli flew into a rage because the sheetrock was uneven. To express his displeasure he smashed a mirror that was hanging on the wall. ”You need a certain personality to work for the company,” kata Brian Hence yang bisa bertahan sepuluh tahun bekerja untuk dia sebelum menjadi presiden rumah sepatu kondang, Jimmy Choo, Amerika.
Awalnya gwa berpikir, apakah citra rumah mode ini tak akan babak belur setelah liputan itu dibeberkan ke seluruh dunia? Maklum, buat masyarakat mode citra itu pentingnya luar ”binasa”. Bahkan menjadi munafik sekalipun tampaknya malah sebuah kebenaran. Dan kalau mengingat pelajaran nonformal di kafe dari teman-teman gwa yang bekerja sebagai humas, maka liputan mengenai kejujuran macam begini adalah tindakan yang mencoreng muka.
Namun, gwa merasa kejujuran dalam liputan itu memberi gwa sesuatu, terutama sekarang gwa mendadak harus mengurus perusahaan peninggalan keluarga. Gwa belajar gwa tak boleh temperamental lagi, harus berhati-hati membelanjakan uang perusahaan dalam mengembangkan bisnis, dan sejuta masukan yang sangat berarti.
Buat gwa kejujuran macam ini bak pahlawan karena umumnya yang gwa baca di majalah semacam Fortune adalah kehebatan seorang pemimpin, tak pernah membeberkan kelemahannya untuk menjadi pelajaran.
Makanya gwa suka bingung. Di sini, kejujuran diusahakan sebisa mungkin ditutup, di luar dibuka habis-habisan. Terus gwa cuma bertanya buat apa yang di sini ditutup, lha wong gwa juga berlangganan majalah luar. Dari sanalah saya mengetahui Carla Bruni itu siapa, Obama itu latar belakangnya macam apa, dan pacar Marc Jacobs itu jenis kelaminnya seperti apa. hek..hek..hek.
Jadi, kejujuran yang tampaknya negatif pun ternyata bisa memberi sumbangan positif buat orang lain, meski harus diakui yang negatif memang lebih enak dijadikan bahan gosip. Itu mungkin yang membuat orang tak berani jujur, meski tahu itu bisa membantu orang lain.
Gwa senang membuat citra karena tampak luar yang sesaat itu penting. Bicara diatur, senyum diatur, kalimat yang saya gunakan mengambang meski masih ada nilai kebenarannya. Pokoknya gwa bisa cerdik seperti ular dan disaat yang sama terlihat tulus seperti merpati. Memesona itu penting, tetapi gwa harus juga berpikir, kalau gwa terus begitu lama-lama lupa gwa ini bukan sedang membuka rumah kecantikan dua puluh empat jam.
Masa Depan Suram
Sebelum gwa tiba di tempat tidur siang ini, gwa mengambil kesimpulan. Masa depan itu suram karena gwa yang akan menyambut masa depan itu sekarang saja sudah suram. Bahkan kalau mau jujur, gwa memang berencana menyuramkan masa depan dengan melakukan kesuraman mulai sekarang. Dan sayang seribu sayang, yang melakukan itu ternyata gwa. gwa yang jadi biang keroknya. Sedihnya, biang keroknya adalah manusia yang mengaku well educated, pandai, dan bermartabak. Eh… salah bermartabat, maksudnya.
Mungkin banyak dari Anda sudah mendapatkan cerita mulia ini. Semoga Anda tak bosan kalau gwa mengulanginya
A man went to a barbershop to have his hair cut and his beard trimmed. As the barber began to work, they began to have a good conversation. They talked about so many things and various subjects. When they eventually touched on the subject of God, the barber said: ”I don’t believe that God exists.” ”Why do you say that?” asked the customer. ”Well, you just have to go out in the street to realize that God doesn’t exist.”
”Tell me, if God exists, would there be so many sick people? Would there be abandoned children? If God existed, there would be neither suffering nor pain. I can’t imagine a loving God who would allow all of these things.”
The customer thought for a moment, but didn’t respond because he didn’t want to start an argument. The barber finished his job and the customer left the shop. Just after he left the barbershop, he saw a man in the street with long, stringy, dirty hair and an untrimmed beard.
He looked dirty and unkempt. The customer turned back and entered the barber shop again and he said to the barber, ”You know what? Barbers do not exist.” ”How can you say that?” asked the surprised barber. ”I am here, and I am a barber. And I just worked on you!” ”No!” the customer exclaimed. ”Barbers don’t exist because that man outside.”
”Ah, but barbers do exist! That’s what happens when people do not come to me.” ”Exactly!” affirmed the customer. ”That’s the point! God, too, does exist! That’s what happens when people do not go to Him and don’t look to Him for help. That’s why there’s so much pain and suffering in the world.”
November 24, 2008 at 4:14 am
setengah setuju setengah enggak sih gw har ama pandangan lo mengenai masa depan yang suran itu.
pada dasarnya kita belum tau masa depan kita akan seperi apa
tapi sekarang kita memang bisa meraba raba akan seperti apa itu dengan melihat keadaan sekarang.
karena gak ada yang pasti di dunia ini har… yang pasti adalah ketidak pastian itu sendiri
jadi tolong sampaikan juga salam ku buat adek dirimu
jangan takut akan masa depan.
just enjoy this life
do what we can do for a better life
life is our own make it bright with our own way
salam juga buat Tuhan kalodirimu berdoa ya..( gw yakin udah lama lo gak berdoa heh..hee……)
November 24, 2008 at 6:05 am
gwa jadi remes (remaja masjid ) pil now … kekkeke becanda dink.
yang pasti adalah ketidakpastian itu sendiri.. sound like pesimist pil.. Gwa aja optimis masa depan gwa suram..kekkekee. keep fight brow
December 2, 2008 at 7:59 am
Wah, Njung … kalo gue ngeliat dirimu, gue gak liat tuh masa depan suram nempel di muka mu. Kamu gak yakin aja ama kemampuan diri sendiri.
Yang pasti, kamu harus pe de Njung hehehehe …
Piss.
December 2, 2008 at 8:40 am
mmm.. emang sie muka gwa kayak nikholik saputra hehaeua..
pede ya.. masalahna gwa gag terlalu suka ma jalan yang banyak dilalui manusia lainna pas gwa idup is..
bonyok called “orep kor mampir go ngombe”