Gwa mungkin hanya seorang pemimpi. Yang memimpikan duduk berdua menikmati petang di teras depan rumah mungil kami. Melihat anak-anak bermain dibawah pohon mangga. Juga senja 25 tahun lagi, setelah keriput menjemput, ketika kami menunggu anak-anak pulang di tempat yang sama. Hanya itu tak lebih tak kurang.

Satu teman gwa akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan pacarnya yang sudah sekitar 3.5 tahun berjalan. Cukup mengejutkan. Karena dari kami segerombolan gwa pikir pasangan merekalah yang akan melenggang dengan pasti ke taraf serius, lebih dari pacaran. Pasangan yang saling melengkapi klo gwa menyebut mereka, cowoknya kalem, ngemong, tenang, santai menghadapi hidup. Sementara teman gwa lebih ambisius, sedikit cepat panik dan perfeksionis.
Dalam satu kesempatan gwa bertanya kenapa harus mengambil keputusan itu. Jawabannya sedikit membuat gwa menyerngitkan dahi, cowoknya belum juga lulus kuliah. Satu sisi, gwa sangat bisa memahami itu. Mengingat teman gwa sekarang sedang merintis karir di salah satu bank pemerintah terbesar Indonesia. Sangat bisa dipahami. Tapi sisi lain otak kecil gwa terpekur, wuizzz… dunia makin materialistis dan kemapanan menjadi pilihan cewek-cewek (termasuk temen gwa). hehehhehe… pilihan praktis untuk idup yang praktis. idup yang praktis mah enak.. mo jalan2 ke luar negeri tinggal pesen tiket, mo beli boil baru tinggal order.. mo di temenin xewex2 keren sepanjang hari tinggal booking.. gag perlu mikirin keruwetan idup yang memaksa otak buat berpikir “besok makan apa ??” , ato “eh jemuran da diangkat lom ya.. ntar diembat maling” RIBET..

Di satu kesempatan yang berbeda, gwa berbincang dengan teman  yang lain di satu chatroom. Doi bercerita bahwa doi sedang dekat dengan dua orang cowok. Satu teman masa kecil, cinta pertamanya. Gwa tahu persis karena sejak pertama gwa kenal ma doi, doi sering menceritakan tentang cowok ini. Yang satu baru saja doi kenal. Teman gwa dihadapkan pada posisi harus memilih yang mana untuk ke tahap serius. Dan doi pilih yang kedua. Ketika gwa tanya mengapa, jawabnya sederhana, kemapanan. Gwa terdiam seribu bahasa. Dihantam kebingungan harus memilih kata. Karena tak bisa gwa pungkiri, engineer di oil company tentunya lebih menjanjikan dari pada karyawan perusahaan yang bahkan tak pernah gwa dengar namanya. Wuihh.. serem mah kalo xewex2 mikirnya kayak gini semua.. bisa terancam nie keidupan gwa. Gwa da ngerasa gwa akan diposisi cowok yang diputusin ma temen gwa yang pertama sekaligus juga cowok yang gag dipilih oleh temen gwa yang kedua. PESIMIS MAH KALO JADI XOWOX KERE..

“bagi xowok kere kalo dapet wanita keren segera nikahin.. keburu disamber xowox tajir. Uda gitu ada aja alasanna..dijodohin laa.. beda agama laa.. gag direstui orang tua laa… Anjing Tai Kucing Laa”
( ini ungkapan dXXXn… seorang shohib yang gag percaya ma pernikahan ) … Depresi banget kayakna

Mungkin pemikiran gwa terlalu kekanak-kanakan, meskipun gwa tidak lagi hidup dalam dunia polos mereka. Tapi bukankah kita juga tak perlu status sosial tertera di jidat kita untuk saling mengaitkan jari kelingking berjanji “through the best and worst of what is to come, until death do us part”?

Janji yang harusnya bisa kita tepati hanya dengan dua hal, komitmen dan tanggung jawab. eH kurang mas ternyata mobil, rumah, kapal pribadi, liburan keliling bulan lom disebutin lupa ya ??

Pertanyaan iseng

1. Pernah gag sie anaknya bill gates putus cinta ??

salam

kingamaya (thx da di post)

One Response to “Banyak orang berambisi mengubah dunia, tetapi sedikit orang berpikir mengubah dirinya sendiri”

  1. rumah mungil Says:

    nice artikel…
    thanks ya atas infonya…
    sangat bermanfaat…

Leave a Reply